Memasuki akhir tahun, banyak  wisatawan yang mulai merencanakan liburan. Apalagi bagi mereka yang sudah berkeluarga. Momen kebersamaan bersama anak harus disiapkan dengan sangat baik. Entah dari destinasi wisata, tiket transportasi atau akomodasi. Banyak orang yang less preparation saat berlibur.Padahal, liburan boleh seru-seruan, tapi jangan lupa untuk tetap memperhatikan faktor keamanan dan juga kenyamanan. So, apa saja yang harus disiapkan menjelang liburan akhir tahun nanti?

Sawarna Part II

Puas melepas lelah dan ditemani berbagai suara Jangkrik, kami siap menyambut Sunrise di Pantai Legon Pari semoga tidak mendung maklum musim hujan
Pantai Legon Pari berpasir putih, sedikit karang dan memiliki ombak yang tidak terlalu besar. Untuk menuju ke Pantai Legon Pari ini harus rela berjalan sekitar 2 km dengan rute yang menanjak dan jalanan yang tidak rata, fiuuuh....SEMANGAT!!!!

welcome sunrise....
SUNRISE
Pantai Legon Pari

Pantai Karang Taraje terletak berdekatan dengan Pantai Legon Pari, ciri khas Pantai Karang Taraje ini sudah pasti memiliki banyak karang baik itu karang kecil, sedang maupun besar dan ombaknya pun sangat besar dan seram akan tetapi deburan ombaknya bisa menjadi pemandangan yang indah saat ombak itu menjadi tinggi karya Tuhan itu sangat luar biasa

Pantai Karang Taraje
Uji Nyali di Pantai Karang Taraje
Deburan ombak  yg Indah 
Pantai Karang Taraje
NARSIS di atas Karang
Sedikit NOTE kecil:

  1. Saat ke Sawarna sebaiknya jangan 1 hari karena hanya akan capek di jalan, secara waktu perjalanannya aja sekitar 7 jam lebih
  2. Bawa uang cash yang cukup karena di sini belum ada ATM tapi gak berlebih juga apalagi kalo penginapannya sudah include makan
  3. Jangan datang saat musim hujan, karena jalanan bakalan licin dan mau explore pantai juga gak bakalan seru apalagi kalo mendung mana mau Sunset/Sunrise keluar *utk saya pengecualian, thanks God*
  4. Jangan buang sampah sembarangan, jadi habitat buruk jgn dibawa ke daerah yah karena kalo daerah itu kan terbiasa alami, bersih dan segar
  5. Kalo bisa minta guide sama Ibu / Bapak tempat penginapan biar gak nyasaar
  6. Jangan memakai baju warna hijau karena kita berada di Pantai Selatan dan kalo biasa untuk para cewek jgn pakai rok karena angin pantai musuh utama rok :D

---follow your heart to see a beautiful islands in the world---
Setelah berdiskusi panjang x lebar x tinggi di Museum Bank Mandiri akhirnya dicapai kesepakatan untuk berangkat menuju Pantai Sawarna 2 minggu kemudian dengan meeting point di Kampus UKI, Cawang pada jam 8 malam

Pantai Sawarna terletak di kota Banten dan akses untuk menuju kesini cukup sulit, perjalanan yang kurang lebih sekitar 10 jam ditambah dengan kondisi jalan yang berliku-liku. Kami sempat apes saat berada di tanjakan yang cuma bisa dilalui 1 mobil, mobil didepan kami mogok sehingga otomatis mobil yang kami naikkin harus tertahan yaaah hitung-hitung sieh amal ibadah karena supir kami yang pintar mesin akhirnya bantuin sopir mobil depan.



Desa Sawarna
Akhirnyaaa sampai juga kami di Desa Sawarna. Setelah sarapan, teman-teman langsung menuju Goa Lalay untuk Caving sedangkan saya tidur pulas karena tepaaar. 

Penginapan kami........
Tampak Luar
View Tampak Depan









View dari jendela kamar - AMAZING

Setelah makan siang kami menuju Pantai Ciantir, wooow pantainya putih bersih, halus, tanpa karang dan ombaknya keren bangeet buat berenang atau surfing.

Pantai Ciantir
Puas bermain dan bernarsis ria di Pantai Ciantir, kami menuju Pantai Tanjung Layar yang merupakan ciri khasnya Sawarna. Ciri Pantai Tanjung Layar ini terdapat 2 karang yang menjulang tinggi dan untuk mencapai karang ini kami harus siap berbasah-basahan karena saat air pasang maka kedalamannya bisa mencapai lutut.....
  ".jangan ke pantai kalo tidak mau basah :D"
Tanjung Layar
Tanjung Layar
Jika sudah di Pantai Tanjung Layar maka wajib menikmati keindahan sunset
SUNSET di Pantai Tanjung Layar

Now, time's for dinner and sleep, good night All
c u at Sawarna Part II......




---follow your heart to see a beautiful islands in the world---
Sepulangnya dari Bromo, kami sepakat untuk melakukan perjalanan bersama dan kali ini tujuan kami adalah Pantai Sawarna pada pertengahan bulan Desember.  Awal Desember kami berkumpul di Museum Bank Mandiri untuk membahas rencana ke Pantai Sawarna.

here we go....

Museum Bank Mandiri ini terletak di seberang Stasiun Jakarta Kota, letak yang mudah untuk di capai karena letaknya strategis dan dipinggir jalan. Museum ini memiliki koleksi-koleksi perbankan zaman dulu kala. Museum ini dibuka dari jam 9 pagi s/d 4 sore dan harga tiketnya sekitar Rp. 2.000,- per orang sedangkan untuk yang memiliki kartu Mandiri pastinyaa gratis dong.....

Satu hal yang sangat disayangkan, Museum Bank Mandiri ini udaranya sangat panas karena tidak AC jadi hanya mengharapkan udara dari tiap jendela..... fiuuuuhhhh.......



NARSIS di Koridor

Lagi ANTRI ATM
Setelah puas berbuat kegaduhan di dalam Museum Bank Mandiri kami turun ke lantai dasar menuju sebuah taman untuk berdiskusi dan menikmati udara yang lebih manusiawi hehehhehehe.......
Diskusi pun tetap NARSIS
Quote:
"The worls is a book and those who do not travel read only one page" - Augustine of Hippo



---follow your heart to see a beautiful islands in the world---
Setelah puas berbasah-basahan ria di Air Terjun Madakaripura saya dan teman-teman lanjut lagi menuju ke kawasan Gunung Bromo

Disini saya menginap menggunakan tenda, fiuuuuh dinginnya muantabzzz. Sekitar jam 7 malam api unggun mulai dipasang dan waktunya untuk saling memperkenalkan diri, yaaah tetap aja gak akan bisa ingat tiap nama secara ada sekitar 60 orang *maaf yah teman*

Jam 4 pagi, saya dibangunkan untuk melihat sunrise di daerah Penanjakan, dingiiiinnya parah sudah pakai sweater + jaket tebal tetap aja gak ngaruh gilaaaaa!!!!!

Tapi tetap aja masih bisa NARSIS….
SUNRISE  @PENANJAKAN
NARSIS TIME....
NARSIS SAMBIL NUNGGU JEEP
GAYA TEMAN-TEMAN DI ATAS JEEP
Setelah puas berfoto ria, saya lanjut ke kawah Gunung Bromo menggunakan Jeep. Di  bawah kaki Gunung Bromo terdapat sebuah Pura sedangkan untuk mencapai tangga ke puncak Gunung Bromo disediakan kuda dengan biaya sekitar Rp. 20.000,- sekali jalan lumayanlaah daripada loe manyun. Walaupun sudah naik kuda secara gak suka nanjak tapi tetap saja untuk mencapai puncak Gunung Bromo harus melewati berpulu-puluh anak tangga, fiiiuuuuhhh.
PURA DI KAKI GUNUNG BROMO
ADA KUDA NGAPAIN  JALAN
NARSIS time….
NARSIS DI PUNCAK GUNUNG BROMO
Saat sedang asyik berfoto tiba-tiba datang angin kencang jadi saya langsung berlari turun daripada nanti nyemplung ke lubang kawah, maklum saja saat ke sini cuaca sedang tidak bagus aliaaaas angin kencang jadi pasir-pasir beterbangan. Sekedar saran aja saat di Gunung Bromo harus hati-hati dengan kamera, dikarenakan ke-4 teman saya kameranya pada rusak karena kemasukan pasir  atau yang lebih tepatnya lensa kamera jadi gak mau tertutup karena penuh pasir dan biaya servis kameranya lebih mahal daripada biaya trip ini *nasib*
Sepulangnya dari kawasan Gunung Bromo, lanjut lagi menuju bukit Teletubies tapi karena supir Jeep gak tahu letak pasti bukitnya maka kelewatan deh tueh bukit sudah gitu pake acara mogok lagi jeep yang paling depan sehingga jeep-jeep yang dibelakang terpaksa berhenti. Terpaksa jalan dan jalanannya nanjak lagi fiiiuuuhhh capcay deh sudah gitu di atas tidak ada pemandangan yang berkesan jadi cuma numpang jajan cemilan cepuluh sambil menunggu jeep menuju Stasiun Malang.

Akhirnya sampai juga di Stasiun Malang, setelah mandi langsung mencari makan siang lapeeeer!!! Rawon disamping Stasiun Malang enak lowh dan murah meriah, teman saya saja sampai nambah *enak atau laper beda tipis yeee*

Time’s back to Jakarta (17 hrs again)……..



NB:
Biaya yang saya habiskan untuk ke Madakaripura-Bromo sebesar Rp. 270.000,- include: tiket KA PP (Jkt-Malang), makan 4x, tenda, transportasi selama disana muraaahnyaaa…..





---follow your heart to see a beautiful islands in the world---
Pada Oktober 2011 untuk pertama kalinya saya mengikuti perjalanan bersama orang-orang yang belum pernah saya kenal, menggunakan kereta api ekonomi dengan jarak tempuh 17 jam. Biasanya saya jalan sendirian, bersama keluarga ataupun teman-teman kantor tapi kali ini saya di ajak oleh teman kakak saya yang tergabung dalam grup backpacker Indonesia

Pukul 13.00 saya tiba di Stasiun Senen, tengok kanan kiri mencari rombongan yang akan berangkat ke kota Malang maklum aja info yang didapat ada sekitar 60orang yang pergi so pasti kelihatan tueh rombongan yang bikin sempit tempat. Setelah bertemu dan berkenalan ternyata mereka orang-orang yang sangat menyenangkan, sempat minder juga sieh saat mendengarkan cerita-cerita mereka yang sudah keliling banyak tempat.  Speechless…..


NARSIS DI STA. MALANG
ROMBONGAN 
MENANTI SARAPAN PAGI
NARSIS BERSAMA DI AIR TERJUN UTAMA
Akhirnya tiba juga di kota Malang, lumayan ambeien nieh secara 17 jam nonstop duduk di kursi kereta ekonomi yang kursinya agak-agak u know-lah… Setelah sarapan, kami langsung naik ELF menuju Probolinggo untuk menikmati keindahan ciptaan Tuhan. Yupsss Air Terjun Madakaripura yang terkenal dengan keindahannya, air terjun ini dikelilingi tebing-tebing yang menjulang tinggi dan meneteskan air di setiap tebingnya seperti saat hujan sedangkan air terjun utamanya berada di ujung sebuah ruangan. Untuk mencapai tempat ini harus melewati  jalan setapak yang cukup licin sepanjang 800m dan selama perjalanan banyak warung penjual makanan, minuman dan payung atau plastik untuk para pengunjung yang tidak mau basah-basahan. Ke air terjun tapi gak mau basah, mendingan ke museum aja kalee hehehehe. Walaupun 60 orang tapi saat ada makanan ataupun foto pasti langsung pada merapat, narsis juga ternyata….


Quote: 
"Fear not that life shall come to an end, but rather fear that it shall never have a beginning" by John Henry Cardinal Newman




---follow your heart to see a beautiful islands in the world---
Sabtu 8 Juni 2013, saya dan kedua teman berencana untuk menghabiskan weekend di kota Bandung. Meeting Point jam 9 pagi di depan kampus tercinta UKI, Cawang dan sebelum jam 9 pagi kami sudah lanjut menuju terminal Kampung Rambutan dikarenakan bus menuju Bandung tidak lewat di depan UKI. Setibanya di terminal, kami langsung menuju pintu keluarnya bus antar kota dan saat menanti bus jurusan Bandung tiba, kami melihat bus jurusan Cianjur dan seperti biasa rencana pun berubah karena kami langsung berlari menuju bus jurusan Cianjur.

Rencana awal bukan berarti tujuan akhir….

Setelah di atas bus, kami langsung bertanya pada mbah Google tentang tempat wisata di Cianjur dan kami menemukan sebuah Blogspot yang membuat kami jadi tambah bersemangat untuk explore Cianjur. Setelah menempuh perjalanan 3.5 jam, akhirnya kami turun di pintu masuk terminal Cianjur dan mencari tempat makan siang sekalian ingin mencari info lebih lengkap tentang wisata di Cianjur baik itu tentang rute transportasi, biaya, jarak dan waktunya. Selalu mendapatkan berita yang potensial bila kita bisa berbaur dengan penduduk lokal, mereka tidak mungkin menipu kita dalam segi harga, jarak dan waktu seperti yang kadang-kadang dilakukan para supir angkot, tukang ojek, supir bus dll

Setelah melalui pertimbangan yang cukup, kami memutuskan untuk menuju Situs Megalith Gunung Padang yang berjarak sekitar +/- 35 km dengan info rute:
Dari pintu terminal - Warung Kondang naik angkot 02B = Rp. 2.000,-
Warung Kondang – Pangkalan Ojek Pabedahan naik angkot 43 = Rp. 10.000,-
Ojek – Situs Megalith = Rp. 25.000,-
Tapi karena pengiritan jadinya kita jalan kaki sampai lampu merah pertigaan sekitar +/- 2 km, dari situ kita hitchhiking Truk pasir yang menuju Sukabumi sampai Cipadang dan dari situ baru naik Angkot 43 sampai Pabedahan. Perjalanan dari Cipadang ke Pabedahan jalanannya rusak parah dan lumayan jauh sekitar 30 menit-an. Info dari supir angkot: ojek ke Situs Megalith Gunung Padang sekitar Rp. 70.000,- sedangkan sewa angkot sekitar Rp. 50.000,- per orang jadi karena kami bertiga sekitar Rp. 150.000,- owhhhh WHAT???? NEVER!!! Sesampainya di Pabedahan kami dikenakan ongkos Rp. 5.000,- per orang padahal info dari penumpang yang lain seharusnya Rp. 3.000,- per orang yah itu dikarenakan kami tidak membayar memakai uang pas. 

Bayar angkot harus pake uang pas!!!

Di Pabedahan cukup banyak tukang ojek dan sesuai info dari warung makan biayanya sekitar Rp. 25.000,- per motor tapi sekali lagi karena kami melakukan pengiritan maka kami memilih hitchhiking mobil pick up untuk menuju jalur terdekat ke Situs Megalith Gunung Padang Kami berhenti di jarak 7 km menuju Situs Megalith Gunung Padang dan kami memutuskan untuk jalan kembali sambil berharap ada mobil nganggur yang akan lewat. Sekedar info walaupun jarak ditulis 7 km tapi kalo kita sudah menjalaninya maka akan tahu bahwa 7 km itu bisa di kali sampai dengan 2 apalagi jalanannya yang menanjak PASSS sudah L. Jalanan boleh terus menanjak dan keringat pun sudah seember tapi tidak akan membuat kami putus asa, apalagi didukung udara yang sejuk dan view sekitar yang ajiiib banget. NARSIS dulu ahhhhhhhhhh.......


VIEW SEPANJANG JALAN
TETAP NARSIS WALAU KERINGAT SEEMBER
Akhirnya ada mobil pick up juga yang lewat lalu kami hitchhiking lagi sampai menemukan papan yang bertuliskan 3 km menuju Situs Megalith Gunung Padang dan seperti yang sudah sampaikan tulisan boleh 3 km tapi aslinya bisa dua kali lipatnya fiiiuhhhh. 

Total 3.5 jam kami menempuh perjalanan dan ternyata Situs Megalith Gunung Padang ini merupakan situs megalitik terbesar di Asia Tenggara bahkan dibangun sebelum Candi Borobudur wooow. Untuk pengunjung yang datang mendekati pukul 18.00 WIB pasti akan ditemani oleh pemandu, hal ini dikarenakan untuk mencegah terjadi sesuatu di atas Gunung -percaya nggak percaya- nieh. Untuk mencapai puncaknya kita harus melewati beberapa anak tangga yang terbuat dari batu dan view sepanjang jalan menuju puncak Bukit AMAZING dikarenakan dikelilingi oleh beberapa gunung yang ada di Pulau Jawa.








Di atas Situs Megalith Gunung Padang ternyata ada beberapa orang yang hendak menginap di situ, info dari pemandu sieh mereka sedang punya niat “sesuatu” makanya ingin menginap di atas agar bisa terkabul keinginannya atau mendapatkan jawaban dari pertanyaannya, padahal kan udaranya dingin banget apa mereka kuat yah?? Hmmmm seperti tidak punya Agama kok hari gini masih percaya hal-hal seperti itu…. yaah sudahlaaah terserah mereka, semoga apa yang mereka lakukan di ampuni Tuhan Amin.....

Karena sudah kemalaman dan perjalanan pulang sudah gelap banget, kami memutuskan untuk menginap dirumah warga dengan biaya Rp. 50.000,- per malam. Harga boleh Rp. 50.000,- tapi kamarnya bisa muat sampai 7 orang, trus kami dapat bed cover dan handuk untuk mandi muantaabzzzz…….

Pulangnya sesuatu banget deh, kita mencoba untuk hitchhiking sebanyak 4x gratiiiis sampai Cipanas seruuuunyaa…..


NB:
Biaya yang saya habiskan untuk ke Situs Megalith Gunung Padang sebesar Rp. 57.000,- muraaahnya……
Include:    
Bus AC Kp. Rambutan – Cianjur = Rp. 20.000,-
Makan siang = Rp. 8.000,-
Angkot 43 Cipadang – Pabedahan = Rp. 5.000,-
Tiket masuk Situs Megalith Gunung Padang = Rp. 2.000,-
Makan Malam = Rp. 6.000,-
Sewa Kamar = Rp. 16.000,- (Rp. 50.000,- per mlm /3 org)



---follow your heart to see a beautiful islands in the world---

Menikmati sunrise di Tanjung Kelayang dan sarapan pagi yang bikin saya sangat kelaparan dikarenakan datangnya sejam lebih padahal saya hanya pesan nasi dan ayam goreng tapii yaaaah sudahlah....

Time's for hopping Islands.........

Pulau pertama yang dikunjungi adalah Pulau Kepayang. Pulau Kepayang adalah tempat untuk konservasi penyu dan terumbu karang, sekaligus cottage untuk malam ini. View belakangnya sieeh oke banget karena dari sini bisa melihat langsung pemandangan laut yang dipenuhi batu-batu granit. 

Narsis di pintu masuk Pulau Kepayang

Cottage di Pulau Kepayang

Setelah beristirahat sejenak sambil menikmati welcome drink ( juice kelapa khas Pulau Kepayang ),  saya lanjut lagi untuk menuju pulau yang kedua. Pulau Pasir adalah sebuah pulau yang terdiri dari hampran pasir di tengah laut yang hanya ada pada saat air surut dan di sini banyak bintang lautnya. Time's for playing....

Bersama Bintang Laut di Pulau Pasir
Pulau ketiga adalah Pulau Batu Berlayar yang merupakan sebuah pulau yang terdiri dari batu-batu granit yang cukup besar. Ciri khas pulau ini ada dua buah batu besar yang berdiri vertikal dan berbentuk seperti "layar" dengan pulau berpasir putih sebagai kapalnya, Di pulau ini tidak terlihat satupun tumbuhan yang hidup dan untuk mencapai pulau ini hanya bisa pada saat air surut.

Batu Berlayar
Pulau keempat adalah Pulau Burung, pulaunya sih biasa aja menurut saya dan ada batu granit besar yang menyerupai kepala burung. Di antara batu granit tersebut terdapat telaga yang sangat indah dan cuma bisa dijumpai saat air surut. Saat saya kesini ada satu hal yang sangat mengecewakan yaitu toilet yang sangat jorok atau memang budaya kita yang tidak bisa menjaga kebersihan yaah......Who knows??

Pulau Burung
 tapi kenapa seperti gambar ikan yah, hmmmmm yaaah begitu deeeh.......

Bersantai sejenak di Pulau Burung
Pulau terakhir adalah pulau favorit saya, Pulau Lengkuas. Pulau yang terkenal dengan mercusuar tuanya, keindahan laut dari atas mercusuar dan keindahan alam bawah lautnya. Sayangnya saat kesini saya tidak membawa kamera underwater jadi keindahan bawah laut hanya bisa tersimpan dalam memori saya. Time's for snorkling.........

Mercusuar
Keindahan dari atas Mercusuar
Puas ber-snorkling, saatnya pulang ke Tanjung Kepayang untuk menikmati sunset ataupun bermain kano dan ini menandakan hopping Island sudah berakhir.

Quote: "setiap saat dalam hidup adalah serentetan gambar yang belum pernah anda lihat sebelumnya, dan akan menjadi hal yang tidak akan pernah dilihat lagi. Jadi nikmati dan jalani hidup apa adanya"

NB: 
sekedar informasi, biaya yang saya habiskan untuk ke Belitung sekitar Rp. 1.100.000,- ( include: tiket pesawat PP, Transportasi 3 hari 2 mlm, Akomodasi di Tanjung Kelayang & Tanjung Kepayang, Boat untuk Hopping Islands, dan makan selama di Belitung ).



---follow your heart to see a beautiful islands in the world---
Setelah menikmati sunset di Tanjung Tinggi, saya lanjut lagi menuju Tanjung Kelayang untuk beristirahat sejenak.

Tanjung Kelayang merupakan pelabuhan yang digunakan untuk melakukan tour keliling Pulau-pulau kecil di Belitung. Penginapan disini harganya cukup terjangkau, tapi sayang sekali untuk proses penyediaan makanan diperlukan waktu yang sangat lama. Untuk para penyakit maag disarankan menyediakan roti-roti atau cemilan cepuluh untuk mengganjal perut hehehheheh.


Pemandangan yang menarik adalah pulau kecil berbentuk burung yang dapat dilihat dari pinggir pantai Tanjung ini, sedangkan di ujung pantai terdapat batu-batu granit yang cukup besar.



Background-nya Pulau berbentuk Burung


Background-nya batu-batu granit :D

Quote: "Dengan merusak alam sekitar berarti kita juga merusak diri sendiri, karena manusia adalah bagian dari alam"


---follow your heart to see a beautiful islands in the world---
Setelah puas dengan makanan laut serta bermain air di pantai Bukit Berahu, saya lanjut lagi ke Tanjung Tinggi tempat syuting film-nya "Sang Pemimpi".

Tanjung Tinggi adalah sebuah pantai yang terletak diantara dua semenanjung, dan disini akan ditemukan ratusan batu granit yang tersebar di sekitar semenanjung dan depan pantai. Disini bisa melihat berbagai pemandangan yang menarik dari atas batu, dan setiap sudut batu memiliki pemandangan unik tersendiri . 



Quote: "Dunia diserahkan Tuhan kepada manusia untuk dikuasai, bukan untuk di eksploitasi"
--Biarkan alam tetap alami dengan keindahannya--


---follow your heart to see a beautiful islands in the world---